{"data":[{"id":"73","title":"Seminar Sustainability and Expressive Roofing dan Peluncuran Onduline Green Roof Award 2025","news_type_name":"Artikel","description":"Seminar Sustainability and Expressive Roofing dan Peluncuran Onduline Green Roof Award 2025","body":"

Onduline Indonesia bersama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta resmi meluncurkan Onduline Green Roof Award (OGRA) 2025 bersama dengan seminar bertema Sustainability and Expressive Roofing<\/i> di Jakarta Design Center. Acara ini dihadiri sekitar 130 peserta mulai dari arsitek, akademisi, hingga praktisi desain yang antusias mengikuti jalannya seminar.<\/span><\/p>\r\n\r\n

Kegiatan dimulai dengan seminar yang dimoderatori oleh Ar. Wendy Sudibyo, IAI dengan narasumber Ar. Abimantra Pradhana, IAI yang memaparkan tentang sejarah perkembangan atap di dunia terkhusus Indonesia dan Ar. Sigit Kusumawijaya, IAI yang menceritakan tentang bagaimana atap menjadi salah satu lemen penting dalam desain bangunan hijau.<\/span><\/p>\r\n\r\n

Setelah seminar, kegiatan dilanjutkan dengan pengumuman akan diselenggaraannya Onduline Green Roof Award (OGRA) 2025. OGRA merupakan sebuah kompetisi arsitektur yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali dan tahun ini mengangkat tema Expressive Roofing: Beyond Shelter, Toward Identitiy<\/i>.<\/span><\/p>\r\n\r\n

Sayembara ini merupakan sayembara gagasan dimana tidak hanya sekedar ajang kompetisi estetis namun menjadi sebuah ruang eksplorasi dan apresiasi terhadap ide-ide segar dan inovatif dalam dunia arsitektur untuk menafsirkan kembali elemen atap yang tidak hanya sebagai pelindung tetapi juga sebagai ekspresi identitas dan karakter bangunan.<\/span><\/p>\r\n\r\n

 <\/p>\r\n\r\n

OGRA 2025 akan dinilai oleh dewan juri yang memiliki pemahaman tentang tema yang diangkat, yaitu: <\/span><\/p>\r\n\r\n

    \r\n\t
  1. \r\n\t

    Ar. Sigit Kusumawijaya, IAI \u2013 Praktisi dan Penggiat Arsitektur Hijau <\/span><\/p>\r\n\t<\/li>\r\n\t

  2. \r\n\t

    Ar. Abimantra Pradhana, IAI \u2013 Praktisi Arsitektur<\/span><\/p>\r\n\t<\/li>\r\n\t

  3. \r\n\t

    Esther Pane \u2013 Country Director Onduline Indonesia <\/span><\/p>\r\n\t<\/li>\r\n<\/ol>\r\n\r\n

    Para juri akan menilai karya berdasarkan inovasi desain, penerapan prinsip bangunan hijau serta eksplorasi bentuk atap yang ekspresif dan berdaya guna.<\/span><\/p>\r\n\r\n

    Sayembara ini terbuka secara nasional untuk anggota Ikatan Arsitek Indonesia, baik individu maupun kelompok. Karya yang diusulkan berupa bangunan komersial dengan lokasi ditentukan oleh peserta namun harus kota besar dan luas lahan maksimal 1.000 m\u00b2 yang menempatkan atap sebagai pusat gagasan arsitektural.  <\/b><\/span><\/p>\r\n\r\n

    Selain terdapat 3 hadiah untuk pemenang pertama hingga pemenang ketiga, 10 karya terbaik berkesempatan untuk menjadi pemenang favorit dengan jumlah likes<\/i> terbanyak. Sebagai bentuk apresiasi lebih lanjut, 10 karya terbaik akan dihimpun dalam E-Book OGRA 2025 agar bisa menjadi inspirasi bersama. <\/b><\/span><\/p>\r\n","url":"seminar-sustainability-and-expressive-roofing-dan-peluncuran-onduline-green-roof-award-2025","created_at":"2025-09-22 13:32:52","cover":"https:\/\/cms.iai-jakarta.org\/uploads\/Artikel\/image1.jpeg"},{"id":"72","title":"Wastucitra, Arsitektur Total untuk Kemerdekaan Sejati","news_type_name":"Artikel","description":"\u201dBagi kita, nasion yang pernah merebut kemerdekaan demi penolongan dan pengangkatan rakyat yang miskin dan tertindas, bagi kita, termasuk para arsitek dan pemberi tugas, ada kewajiban mulia untuk lebih serius mengolah arsitektur yang lebih lengkap, l","body":"

    \u201dBagi kita, nasion yang pernah merebut kemerdekaan demi penolongan dan pengangkatan rakyat yang miskin dan tertindas, bagi kita, termasuk para arsitek dan pemberi tugas, ada kewajiban mulia untuk lebih serius mengolah arsitektur yang lebih lengkap, lebih utuh dalam arti wastu tadi, dalam suatu \u2019total architecture<\/i>\u2019\u201d<\/p>\r\n\r\n

    Wastu Citra<\/i>, 1988<\/p>\r\n\r\n

    Dengan mengingat kemerdekaan bangsa, dalam bukunya itu, YB Mangunwijaya (Romo Mangun) mengamanatkan \u201darsitektur total\u201d. Ia memulainya dengan ajakan mengganti \u201darsitektur\u201d dengan \u201dwastu\u201d karena kata arsitektur <\/i>berasal dari bahasa Yunani: arche<\/i> (utama) dan tektoon<\/i> (pembangun), yang hanya berarti \u201dpembangun utama\u201d.<\/p>\r\n\r\n

    Sebaliknya, wastu<\/i> atau vasthu<\/i> (Sanskrit) maknanya lebih dari \u201dbangunan\u201d, yaitu hakikat, norma, dan tolok ukur hidup yang benar, wujud nyata dari pegangan semesta. Citra bukan sekadar impresi dan gengsi, melainkan makna terdalam suatu karya yang menembus realitas, melampaui materi, berlandaskan keindahan dan nalar ekologis demi keselarasan alam.<\/p>\r\n\r\n

    Romo Mangun memang tak memberi definisi tunggal \u201dwastucitra\u201d. Namun, dari seluruh uraian dan ilustrasi yang dihadirkan, jelas bahwa arsitektur tidak boleh berhenti pada teknikalitas dan estetika belaka.<\/p>\r\n\r\n

    IKN: prioritas yang memudar<\/b><\/p>\r\n\r\n

    Kegagalan merayakan 80 tahun kemerdekaan RI di Ibu Kota Nusantara (IKN) bukan sekadar masalah ketidaksiapan fisik atau ketidaksempurnaan tampilan. Ada hal lebih mendasar: niat, cara berpikir, serta keberpihakan pembangunan.<\/p>\r\n\r\n

    Sebagaimana karya cipta lainnya, kegunaan IKN ditentukan oleh siapa yang membutuhkannya. Walaupun berguna untuknya, belum tentu berguna bagi yang lain. Begitu pula proses pengerjaannya: siap atau tidak, sempurna atau belum, jika benar-benar diinginkan, segala cara ditempuh\u2014to want is to be able<\/i> (mau berarti mampu).<\/p>\r\n\r\n

    Namun, tekad itu meluntur. Anggaran IKN dipangkas dari Rp 89 triliun (2024) menjadi Rp 13,5 triliun (2025). Sejak Januari 2025, peletakan batu pertama ke-9 belum terlaksana.<\/p>\r\n\r\n

    MPR mengeluarkan IKN dari Pokok-Pokok Haluan Negara, dan di DPR muncul usulan moratorium. Relokasi aparatur sipil negara ditunda, dan keputusan pemindahan ibu kota belum ditandatangani Presiden.<\/p>\r\n\r\n

    Kota hanya hidup jika ada yang menghidupi dan tinggal di dalamnya. Tanpa penghuni tetap, akan sulit menumbuhkan rasa memiliki, keterikatan, dan kebanggaan: \u201dinilah kotaku\u201d.<\/p>\r\n\r\n

    Dengan okupansi hanya 24,8 persen, kesunyiannya dapat menghampakan daya hidup dan memicu penelantaran kota (urban decay<\/i>).<\/p>\r\n\r\n

    Suasana Taman Kusuma Bangsa di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, Kalimantan Timur, Kamis (10\/10\/2024) sore. Lokasi ini akan menjadi tempat Gala Dinner Kompas100 CEO Forum Ke-15 Powered by PLN.<\/p>\r\n\r\n

    Akibat salah perhitungan, China pernah mengalami \u201dkota hantu\u201d, seperti di Chenggong, Lanzhou, dan Nanhui. Maka, keberadaan pejabat tinggi, seperti kesiapan Wakil Presiden berkantor di IKN, dapat memperkuat rasa kepemilikan dan kepercayaan publik, sekaligus menjawab siapa yang benar-benar membutuhkan kota ini.<\/p>\r\n\r\n

    Problematika serupa juga terjadi pada Proyek Strategis Nasional (PSN) lain. Wastucitra menyebutnya: ketidakselarasan antara guna dan citra. Selaras berarti, baik kebergunaan maupun keberhargaan, tak boleh saling meninggikan diri. Sebab, apabila sudah serasi, dengan sendirinya datang apresiasi dan otomatis derajat naik tanpa debat.<\/p>\r\n\r\n

    Karena citra juga berarti tekad, bukan hanya kuat semangatnya, tetapi juga tulus niatnya. Namun, itu pun tidaklah cukup. \u201dNeraka penuh dengan harapan dan keinginan baik,\u201d kata Santo Bernardus dari Clairvaux (1602). Itikad baik harus diiringi ikhtiar baik.<\/p>\r\n\r\n

    Krisis kepercayaan pembangunan<\/b><\/p>\r\n\r\n

    Pada dasarnya, logika Wastucitra adalah perpaduan guna (manfaat) dan citra (ketulusan niat) yang selaras (setara\/adil\/tepat) sehingga menghasilkan keberadaban (budi luhur\/martabat). Bila dirumuskan: (manfaat + niat) x tepat = martabat.<\/p>\r\n\r\n

    Tingginya peradaban dan martabat bukanlah kemajuan semu yang menjauhkan manusia dari alam dan dirinya. Kualitas hidup generasi mendatang harus meningkat tanpa beban utang, baik finansial maupun ekologis. Bukan hanya pendapatan lokal bertambah, tetapi juga akses, keterlibatan, dan kemandirian setara, serta ketimpangan berkurang.<\/p>\r\n\r\n

    Pengalaman kelam pembangunan kolonial, seperti Jalan Raya Pos (1808-1811), tidak boleh terulang. Sekitar 1.000 kilometer jalan tidak pernah sebanding dengan sekitar 12.000 pribumi yang tewas (Thom, 1993). Ditambah adanya keterlibatan penguasa lokal yang mengorbankan mereka demi kesuksesan proyek.<\/p>\r\n\r\n

    Kesewenang-wenangan lahir dari logika pembangunan kolonial. Tanpa perlu menyelidiki niat atau cara jahat, meskipun dibungkus modernitas dan prestise, tanda-tandanya pasti bisa dirasakan. <\/p>\r\n\r\n

    Gejalanya sudah terlihat. Kajian \u201dDampak Buruk Proyek Strategis Nasional (PSN) terhadap HAM\u201d (Komnas HAM, 2024) diabaikan. Proses hukum dugaan penyelewengan 36,67 persen dana PSN, sekitar Rp 500 triliun (PPATK, 2024), mandek. Lebih dari itu, janji pertumbuhan ekonomi 7 persen tidak tercapai. Sepanjang 2014-2024, pertumbuhan ekonomi hanya naik dari 5,1 persen menjadi 5,8 persen dengan rata-rata 4,2 persen.<\/p>\r\n\r\n

    Malah, dalam dekade tersebut, ketimpangan kekayaan melonjak. Menurut Litbang Kompas <\/i>(2025), rasio kekayaan rata-rata 40 orang terkaya dibanding seluruh warga Indonesia meningkat dari 691.646 kali menjadi 1.263.381 kali. Bahkan, pada 2023, Indonesia menjadi negara dengan ketimpangan kekayaan tertinggi di dunia.<\/p>\r\n\r\n

    Tak heran jika ketidakpercayaan publik memuncak, termasuk melalui bendera One Piece sebagai protes simbolis pada perayaan kemerdekaan kali ini.<\/p>\r\n\r\n

    Inilah yang disebut Wastucitra sebagai \u2019arsitektur\u2019 yang hanya mengalirkan air mata kebenaran (lacrimor veritatis<\/i>) atau tangisan ketidakadilan, bukan kecerlangan kebenaran (splendor veritatis<\/i>).<\/p>\r\n\r\n

     <\/p>\r\n\r\n

    Kemerdekaan sejati<\/b><\/p>\r\n\r\n

     <\/p>\r\n\r\n

    Sebagian memahami Wastucitra sebagai arsitektur vernakular, \u201dThe architecture of the people, and by the people, but not for the people<\/i>\u201d (Oliver, 2003).<\/p>\r\n\r\n

    Arsitektur yang tidak hanya untuk manusia, tetapi juga semesta, termasuk yang dianggap mati tetapi berguna, seperti ozon dan es abadi. Namun, Wastucitra lebih luas dari itu. Ia adalah konsep arsitektur sekaligus manifesto politik.<\/p>\r\n\r\n

    Dengan menanggalkan sebutan \u201darsitektur\u201d, Wastucitra telah melawan kungkungan pengetahuan warisan kolonial, atau \u201ddekolonialitas pengetahuan\u201d (Quijano, 1999). Selain menghapus ampas kolonial, upaya tersebut memulihkan pengetahuan lokal yang hilang sekaligus menjadi perisai dari neokolonialisme.<\/p>\r\n\r\n

    Dekolonialitas juga perlu diterapkan pada istilah-istilah pembangunan saat ini, misalnya: smart forest city, memorial park, command center, sustainability hub, commercial complex, global city,<\/i> dan giant seawall.<\/i><\/p>\r\n\r\n

    Kemudian, ia dapat menyasar pada dominasi material, metode konstruksi, pilihan teknologi, kebijakan pembangunan, termasuk tuntutan globalisasi dan modal asing yang kerap dijadikan alasan dari penggunaan istilah-istilah itu.<\/p>\r\n\r\n

    Namun, ini bukanlah sikap antiasing. Melalui tulisan-tulisannya di Kompas<\/i>: Petruk (1997), Indonesia yang Antifasis (1998), dan YB Mangunwijaya, \u201dGruendlich\u201d (1998), Romo Mangun memberi petunjuk: (1) neokolonialisme dapat dilakukan siapa pun dengan korupsi, kolusi, nepotisme, feodalisme, dan fasisme; (2) neokolonialisme berlangsung di dalam sistem kapitalisme global yang manipulatif dan eksploitatif.<\/p>\r\n\r\n

     <\/p>\r\n\r\n

    Belum selesai polemik soal pagar laut di Kabupaten Tangerang, Banten, kini muncul pagar laut di Muara Tawar, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.<\/p>\r\n\r\n

    Selain itu; (3) perjuangan melawannya harus total dan sistematis; dan (4) selambat-lambatnya, pada 2045, Indonesia bebas dari eksploitasi manusia oleh manusia lain.<\/p>\r\n\r\n

    Dari kolonialisme ke neokolonialisme, dari Orde Lama, Orde Baru, lalu era Reformasi hingga era deformasi, Indonesia telah belajar bahwa kemerdekaan sejati tidak memiliki akhir. Tidak ada final. Bukan soal menang atau berjaya.<\/p>\r\n\r\n

    Kemerdekaan sejati sederhana saja: cukup setia memerdekakan \u201dmereka yang terjajah\u201d, yang bagi Wastucitra adalah klien abadi.<\/p>\r\n\r\n

    Chandra Pradita Putra,<\/b> Arsitek dan Pegiat Dialokota<\/i><\/p>\r\n","url":"wastucitra-arsitektur-total-untuk-kemerdekaan-sejati","created_at":"2025-08-27 09:40:52","cover":"https:\/\/cms.iai-jakarta.org\/uploads\/1234\/53fffc50-8596-4a9e-b26b-70501536368d.JPG"},{"id":"71","title":"8 Saran Arsitek Atasi Banjir Jabodetabek","news_type_name":"Artikel","description":"8 Saran Arsitek Atasi Banjir Jabodetabek, Perbaiki Tata Kota-Buat Rumah Panggung\r\nAlmadinah Putri Brilian\r\n","body":"

    8 Saran Arsitek Atasi Banjir Jabodetabek, Perbaiki Tata Kota-Buat Rumah Panggung<\/span><\/span><\/span>
    \r\nAlmadinah Putri Brilian<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    Selasa, 11 Mar 2025 11:22 WIB<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    Jakarta - Banjir melanda kawasan Jabodetabek selama beberapa hari terakhir ini. Akibatnya tak hanya merusak bangunan saja tetapi juga membahayakan nyawa warga setempat.<\/span><\/span><\/span>
    \r\nMenurut Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, fenomena banjir Jabodetabek tersebut bukan hanya sekadar bencana alam tetapi juga akibat dari permasalahan tata kota dan tata laku yang sudah lama terjadi dan belum terselesaikan dengan baik.<\/span>
    \r\n
    \r\nSaat ini, kondisi lingkungan di hulu maupun di hilir telah mengalami kerusakan yang signifikan. Pada kawasan hulu yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan air justru semakin berkurang akibat dari alih fungsi lahan yang tidak terkendali.<\/span>
    \r\n
    \r\n
    \r\nSementara itu, di bagian hilir, khususnya Jakarta, semakin padat oleh bangunan sehingga mengurangi daerah resapan air dan memperparah dampak banjir. Maka dari itu, perlu ada langkah yang harus diambil untuk mengatasi hal tersebut.<\/span>
    \r\n
    \r\nUntuk itu, IAI Jakarta menyarankan beberapa delapan hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan banjir, yaitu:<\/span>
    \r\n
    \r\n
    \r\n1. Perlindungan Daerah Hulu<\/span>
    \r\nDaerah hulu harus dijaga sebagai kawasan resapan air yang efektif. Penghijauan kembali, penghentian alih fungsi lahan yang tidak sesuai, serta pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan harus menjadi prioritas.<\/span>
    \r\n
    \r\n2. Normalisasi Sungai dari Hulu hingga Hilir<\/span>
    \r\nPenanganan sungai harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya di Jakarta tetapi dari sumbernya di hulu hingga ke hilir. Upaya pengerukan, pelebaran, dan perbaikan sistem drainase perlu segera dilaksanakan.<\/span>
    \r\n
    \r\nBaca juga:<\/span>
    \r\nDitawari Rumah Bebas Banjir? Cek Dulu, Jangan Tertipu Trik Pengembang<\/span>
    \r\n3. Perbaikan Tata Kota<\/span>
    \r\nKesalahan dalam perencanaan tata kota yang menyebabkan penyempitan aliran air dan berkurangnya area resapan harus segera dibenahi. Penegakan aturan pembangunan harus dilakukan secara tegas untuk mencegah pelanggaran lebih lanjut.<\/span>
    \r\n
    \r\n4. Pembangunan Waduk dan Taman Tampung Air<\/span>
    \r\nUntuk mengurangi dampak banjir, perlu diperbanyak waduk dan taman yang mampu menampung air hujan dan mengurangi aliran air permukaan.<\/span>
    \r\n
    \r\n5. Penambahan Area Resapan Air<\/span>
    \r\nPembuatan sumur resapan, penggunaan material perkerasan yang lebih ramah lingkungan, serta penerapan konsep kota hijau perlu diperbanyak agar air dapat terserap ke dalam tanah dengan optimal.<\/span>
    \r\n
    \r\n6. Pola Hidup Vertikal dan Desain Rumah Panggung<\/span>
    \r\nKajian dan implementasi pola hidup vertikal di Jakarta harus mulai dilakukan secara serius sebagai bagian dari solusi jangka panjang. Selain itu, desain rumah panggung yang lebih adaptif terhadap banjir perlu diperkenalkan dan diterapkan secara lebih luas.<\/span>
    \r\n
    \r\n7. Perbaikan Tata Laku Masyarakat<\/span>
    \r\nKesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan sangat penting. Masyarakat perlu lebih disiplin dalam membuang sampah, menjaga kebersihan, serta mematuhi aturan pembangunan agar tidak memperburuk kondisi tata ruang kota.<\/span>
    \r\n
    \r\n8. Mitigasi dan Penanganan Pasca Bencana<\/span>
    \r\nPemerintah dan masyarakat harus memiliki sistem mitigasi yang baik, termasuk kesiapan dalam menghadapi banjir serta langkah-langkah pemulihan pasca bencana agar dampaknya dapat diminimalisir.<\/span>
    \r\n
    \r\nKetua IAI Jakarta, Ar. Teguh Aryanto, mengimbau masyarakat, pemerintah daerah, maupun pemerintah pusat untuk saling membantu menangani banjir Jabodetabek. Menurutnya, tanpa upaya menyeluruh dan berkelanjutan, banjir akan tetap terjadi di Jabodetabek setiap tahunnya.<\/span>
    \r\n
    \r\n\"Kami percaya bahwa dengan kolaborasi yang erat dan keseriusan dalam implementasi solusi, masalah banjir dapat diatasi secara lebih efektif demi masa depan kota yang lebih baik dan berkelanjutan,\" katanya dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (11\/3\/2025).<\/span>
    \r\n
    \r\nSumber : https:\/\/www.detik.com\/properti\/berita\/d-7817278\/8-saran-arsitek-atasi-banjir-jabodetabek-perbaiki-tata-kota-buat-rumah-panggung<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n","url":"8-saran-arsitek-atasi-banjir-jabodetabek","created_at":"2025-03-14 14:20:30","cover":"https:\/\/cms.iai-jakarta.org\/uploads\/Artikel\/selain-jakarta-banjir-juga-rendam-bekasi-2_169.jpeg"},{"id":"70","title":"Marchin Tour: Gedung BI Dulu dan Kini ","news_type_name":"Artikel","description":"Marchin Tour: Gedung BI Dulu dan Kini ","body":"

    ????<\/span> Marchin Tour: Gedung BI Dulu dan Kini \u26ab<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

     <\/p>\r\n\r\n

    Ikatan Arsitek Indonesia mengajak Anda untuk mengikuti Marchin\u2019 Tour: Gedung BI Dulu dan Kini, sebuah tur kurasi yang menggali sejarah dan perkembangan arsitektur Gedung Bank Indonesia.<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

     <\/p>\r\n\r\n

    ????<\/span> Lokasi: Kafe MuBI (Titik Kumpul)<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    ????<\/span> Waktu: Minggu, 16 Maret 2025 | 13.30 \u2013 16.00 WIB<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

     <\/p>\r\n\r\n

    \u2705<\/span> KUM: 8<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    ????<\/span> Gratis! Kuota terbatas<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

     <\/p>\r\n\r\n

    Jangan lewatkan kesempatan untuk menambah wawasan arsitektur dan mendapatkan nilai kum! Daftar segera melalui link berikut: bit.ly\/mubimarchintour<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

     <\/p>\r\n\r\n

    #IkatanArsitekIndonesia #MarchinTour #ArsitekturIndonesia #TurArsitektur #BankIndonesia<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    \"\"<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    \"\"<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n","url":"marchin-tour-gedung-bi-dulu-dan-kini","created_at":"2025-03-14 14:14:06","cover":"https:\/\/cms.iai-jakarta.org\/uploads\/Artikel\/Marchin%20Tour%2001.jpg"},{"id":"69","title":"PRESS RELEASE IAI Jakarta","news_type_name":"Artikel","description":"Sambut Gubernur Baru: Siap Berkolaborasi untuk Kemajuan Kota Jakarta","body":"

    \"\"<\/p>\r\n\r\n

    \"\"<\/p>\r\n","url":"press-release-iai-jakarta","created_at":"2025-03-14 14:05:03","cover":""},{"id":"68","title":"PEMUTAKHIRAN DPT","news_type_name":"Artikel","description":"Pastikan memiliki hak pilih dalam pemilihan ketua IAI Jakarta periode 2024-2027","body":"

    ????<\/span> PEMUTAKHIRAN DPT \u26ab<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

     <\/p>\r\n\r\n

    Panitia Pemilihan Ketua IAI Jakarta Periode 2024-2027 membuka kesempatan bagi rekan-rekan anggota IAI Jakarta untuk melakukan Pemutakhiran Data Pemilih Tetap pemilihan ketua IAI jakarta periode 2024-2027<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    Pastikan rekan-rekan memiliki hak pilih dalam pemilihan ketua IAI Jakarta periode 2024-2027<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    Persyaratan memiliki hak pilih adalah sebagai berikut :<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    1. Anggota IAI jakarta<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    2. Aktif Iuran keanggotaan minimal tahun 2024<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    Daftar pemilih tetap (DPT) Sementara<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    Dapat dilihat pada tautan berikut :<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    https:\/\/bit.ly\/DPSIAIJKT<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

     <\/p>\r\n\r\n

    Tahapan Pemutakhiran Daftar Pemilih Tetap ini berlangsung pada tanggal 11-14 November 2024<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    Apabila rekan-rekan telah masuk dalam Daftar Pemilih tetap segera melakukan validasi Nomor WA anda melalui tautan :<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    https:\/\/wa.me\/6281546405200<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    Lalu ketik \"Menu\" kemudian ikuti proses validasi selanjutnya sampai selesai.<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

     <\/p>\r\n\r\n

    Untuk informasi terkait pemutakhiran data, silahkan menghubungi sekretariat melalui nomer 085774774170<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n","url":"pemutakhiran-dpt","created_at":"2024-11-13 15:11:04","cover":"https:\/\/cms.iai-jakarta.org\/uploads\/Pemilihan%20Ketua%20IAI%20jkt%202024\/Pemutakhiran%20dPT.jpg"},{"id":"67","title":"JAF 2024","news_type_name":"Artikel","description":"SCHEDULE","body":"

    \"\"<\/p>\r\n","url":"jaf-2024","created_at":"2024-11-10 22:47:28","cover":"https:\/\/cms.iai-jakarta.org\/uploads\/JAF%2024\/Schedule%201.jpg"},{"id":"66","title":"JAKARTA ARCHITECTURE FESTIVAL 2024","news_type_name":"Artikel","description":"RECLAIMING IDENTITIES","body":"

     <\/p>\r\n\r\n

    \"\"<\/p>\r\n","url":"jakarta-architecture-festival-2024","created_at":"2024-11-10 22:34:33","cover":"https:\/\/cms.iai-jakarta.org\/uploads\/JAF%2024\/Reclaiming%20Identities%2001.jpg"},{"id":"65","title":"Exhibition","news_type_name":"Artikel","description":"Jakarta underground and above","body":"

    Exhibition : Jakarta underground and above<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/strong>
    \r\n
    \r\nExhibition of the Jakarta Architecture Festival 2024, organized by Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    \r\n
    \r\n\u201cReclaiming Identities\u201d, reflecting the profound connection between architecture and the diverse cultural, historical, and social identities of Jakarta\u2019s communities.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    Event Details :<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    \r\n9th - 24th November 2024<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    \r\nWeekdays 9.00 - 20.00 WIB | <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>Weekend 8.00 - 21.00 WIB<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    \r\nL2 Floor - Agora Mall, Thamrin Nine Jakarta<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    \r\n
    \r\n\u2014See u at Jakarta Architecture Fesitival 2024<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/em><\/strong><\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

     <\/p>\r\n\r\n

    Sponsored by :<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    \r\nA PLUS <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>@apluspacific<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a>
    \r\nNippon Paint <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    @nipponpaintindo<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a> | Saint-Gobain <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>@saintgobainindonesia<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a>
    \r\nAsahimas | Dekkson <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    @dekkson_official<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a> | Dulux <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>@letscolourid<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a> |Jotun <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>@jotunindonesia<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a> | Kohler <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>@kohlerid<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a> | Propan | Quadra <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>@quadra.surface<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a> | Sandimas <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>@sandimastiles<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a> | Toto <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>@toto.indonesia<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a> | uzin <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>@uzinindonesia<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    Supported by :<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    \r\nPemprov DKI Jakarta<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    \r\nArchitalks<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    \r\nAstraLand Indonesia<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    \r\nAstra Property<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    \r\nPutra Gaya Wahana<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    In collaboration with :<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    \r\nBaliFiber <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    @balifiberofficial<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a>
    \r\nBediri Sedjak<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    \r\nCouncil On Tall Buildings and Urban Habitat Indonesia<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    \r\nEco Touch <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    @ecotouch_id<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a>
    \r\nForests for All Forever<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    \r\nGreen Building Council Indonesia <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    @gbciofficial<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a>
    \r\nHDII<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    \r\nHTII<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    Ikatan Ahli Bandara Indonesia<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    \r\nIBIMI<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    \r\nKamilau Kayu <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    @kemilaukayu<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a>
    \r\nLarchstudio <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    @larchstudio<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a>
    \r\nLaflo <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    @lafloexperience<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a>
    \r\nMRT Jakarta <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    @mrtjkt<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a>
    \r\nPERAFI <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    @perafi.id<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a>
    \r\nPerkins & Will <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    @perkinswill<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a>
    \r\nTechne Praxis International <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    @technepraxis<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a>
    \r\nTastemade <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    @tastemadeindones<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

    Media Partner :<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    \r\nArchinesia <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    @archinesia<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/span><\/span>
    \r\nGaruda TV <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    @garudatv.official<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/span><\/span>
    \r\nIndonesia Design <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    @indonesia.design<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/span><\/span>
    \r\nKonstruksi Media <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    @konstruksimedia<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/span><\/span>
    \r\nTribunnews <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    @tribunnews<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/span><\/span>
    \r\nCatalogPro <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>
    @catalogpro.ind<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

     <\/p>\r\n\r\n

    \"\"<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n","url":"exhibition","created_at":"2024-11-09 12:33:53","cover":"https:\/\/cms.iai-jakarta.org\/uploads\/JAF%2024\/Exhibition%2001.jpg"},{"id":"64","title":"Pemilihan Calon Ketua IAI Jakarta ","news_type_name":"Artikel","description":"E-Voting 01 Pemilihan Calon Ketua IAI Jakarta ","body":"

    \u26abPemilihan E-Voting Calon Ketua IAI Jakarta\u26ab<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

     <\/p>\r\n\r\n

    Dari tanggal 9 - 15 September 2024, mari kita berpartisipasi dalam pemilihan calon ketua IAI Jakarta. Suara Anda sangat berarti untuk masa depan!<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n

     <\/p>\r\n\r\n

    Syarat Pemilihan:<\/span><\/span><\/span><\/p>\r\n\r\n